Thai Airways Terancam Bangkrut

Thai Airways Terancam Bangkrut

Thai Airways Terancam Bangkrut PM Thailand Turun Tangan

Thai Airways Terancam Bangkrut PM Thailand Turun Tangan – Maskapai penerbangan Thai Airways akan melakukan restrukturisasi dengan bantuan pemerintah. Restrukturisasi diperlukan untuk menyelamatkan BUMN Thailand itu dari ancaman bangkrut akibat pandemi virus corona.

Bahkan, sama seperti kebanyakan maskapai penerbangan lain, Thai Airways memangkas semua jadwal penerbangan karena permintaan yang menurun selama pandemi covid-19 dan semua staf telah cuti tak berbayar.

Thai Airways menjadi maskapai besar berikutnya yang terguncang akibat pandemi virus corona. Sebelumnya, maskapai penerbangan Kolombia Avianca dan Virgin Australia mengajukan kebangkrutan, sementara maskapai penerbangan asal Inggris Flybe gulung tikar pada Maret.

Dilansir Poker IDN Play Online, Rabu, Thai Airways mengumumkan pemerintah telah menyetujui proposal terkait restrukturisasi besar-besaran yang akan diawasi Pengadilan Kepailitan Pusat Thailand. Langkah ini diambil untuk mencegah pembubaran perusahaan, dipaksa likuidasi, atau dinyatakan bangkrut.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Soekarno Hatta menolak keberangkatan lebih dari 100 calon penumpang pesawat. Alasannya, calon penumpang tersebut tidak memenuhi syarat karena membawa dokumen yang tidak valid dan surat keterangan rapid test yang sudah habis masa berlakunya.

“Personel yang bertugas mengidentifikasi calon penumpang yang membawa dokumen tidak valid hingga surat keterangan rapid test/PCR yang kedaluwarsa,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) selaku Ketua Pengarah Gugus Tugas Soetta Muhammad Awaluddin, Jumat.

Fokus saat ini memang adalah menjalankan ketentuan

Awaluddin tak menjelaskan lebih lanjut mengenai penumpang yang ditolak berangkat tersebut, namun ia menyebut Gugus Tugas Soekarno Hatta menetapkan berbagai prosedur yang salah satunya adalah penanganan keberangkatan dan kedatangan penumpang pesawat.

“Fokus saat ini memang adalah menjalankan ketentuan SE 04/2020 terkait dengan keberangkatan penumpang domestik dan SE Menkes 313/2020 terkait kedatangan penumpang internasional,” tutur Awaluddin.

Namun, Prayut mengungkapkan pilihan itu tidak jadi diambil karena lebih dari 20 ribu pegawai akan kehilangan pekerjaan. Mengacu data akhir tahun lalu, maskapai Thai Airways memiliki 21 ribu karyawan.

“Thailand dan seluruh dunia sedang agcsa.org menghadapi krisis. Penghasilan setiap orang menurun karena efek covid-19. Kita harus memprioritaskan anggaran untuk membantu orang-orang di masa depan,” kata Prayut.

Sebenarnya, Thai Airways telah terganggu sebelum pandemi virus corona muncul pertama kali di China pada akhir 2019. Mengacu laporan tahun lalu, maskapai pelat merah ini mengalami kesulitan karena ekonomi global yang melambat, fluktuasi harga minyak, dan persaingan maskapai penerbangan bertarif rendah yang kian ketat.

Kementerian Keuangan Thailand dan bank milik negara tercatat memiliki saham mayoritas di perusahaan penerbangan ini. Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha mengatakan kabinetnya menimbang beberapa opsi untuk maskapai Thai Airways yang terdampak covid-19, termasuk melakukan likuidasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *