Pengusaha Migas Teken Perjanjian Hari Ini

Pengusaha Migas Teken Perjanjian Hari Ini

Tekan Harga Gas, Pengusaha Migas Teken Perjanjian Hari Ini

Pengusaha Migas Teken Perjanjian Hari Ini – Kementerian ESDM menggelar penandatanganan 20 perjanjian dalam rangka Implementasi Peraturan Menteri ESDM Nomor 8/2020, Keputusan Menteri ESDM No.89K/10/MEM/2020 dan Keputusan Menteri ESDM No.91K/10/MEM/2020 terkait harga dan pengguna gas bumi di bidang industri dan kelistrikan.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), memilih opsi memangkas bagian negara dari penjualan gas alam cair (LNG) untuk memastikan harga gas di hilir maksimal US$6 per MMBtu.

Nantinya, produsen LNG didorong menawarkan sisa produksi LNG yang belum terkontrak ke PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk. terlebih dahulu sebelum melepasnya ke pasar spot internasional.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto memastikan langkah ini tidak akan merugikan produsen LNG dalam negeri.

Sementara, 13 LoA antara penjual dan pembeli gas bumi yang ditandatangani terdiri dari 2 perjanjian sebagai implementasi Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 89K/2020 serta 11 perjanjian sebagai implementasi Kepmen ESDM Nomor 91K/2020.

Kepala SKK Migas Dwi Sutjipto mengatakan penandatanganan pembelian gas bumi di sektor industri maupun sektor kelistrikan, termasuk pelaku usaha industri hilir, ini diharapkan makin memberi kepastian pasokan gas sesuai volume yang ada di dalam kontrak.

“Kalau harga lelang katakanlah US$5 per MMBtu, PGN sanggupnya US$4 per MMBtu, yg US$1 ini bagian pemerintah dikorbankan,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut rencana ini, Djoko akan menyurati semua produsen LNG untuk tidak melelang spot kargo sebelum ditawarkan ke PGN.

Selain pasokan gas yang telah ditandatangani perjanjiannya, terdapat pasokan gas sebesar 300 BBTUD atau setara 24,9 persen yang tidak memerlukan penandatanganan perjanjian antara penjual dan pembeli karena telah sesuai dengan kondisi saat ini.

Secara total pasokan gas sebesar 822,3 BBTUD atau setara 68,2 persen sebagai pelaksanaan Kepmen ESDM Nomor 89K/2020 telah diselesaikan.

Selain itu, telah ditandatangani pula 13 LoA antara Penjual dan Pembeli pada sektor kelistrikan dengan total volume gas sebesar 298,73 BBTUD atau setara 21,4 persen dari total volume gas tahun 2020 dalam Kepmen ESDM Nomor 91K/2020.

“Sementara pasokan gas yang tidak memerlukan penyesuaian Perjanjian dalam implementasi Kepmen ESDM Nomor 91K/2020 mencapai sebesar 102 BBTUD,” lanjut Dwi.

Djoko menambahkan PGN dapat menjual gas pada harga US$6 per MMBtu selama seluruh fasilitas gasnya beroperasi sesuai kapasitasnya. Dengan fasilitas beroperasi penuh dan penjualannya lebih besar, maka ongkos angkut gas lewat pipa (toll fee) yang dibebankan ke pembeli juga menurun.

“Harga bisa turun dan untung PGN bisa sama, tetapi volumenya gasnya harus besar. Itu yang ditawarkan PGN,” tambahnya.

Pasokan Gas Sebesar 300 BBTUD

Sejauh ini, PGN mengoperasikan dua unit penerimaan dan regasifikasi terapung (FSRU) di Lampung dan Jawa Barat. Serta satu terminal regasifikasi di Arun, Aceh. Selain itu, PGN juga mengelola pipa gas sepanjang lebih dari 10.000 kilometer (km).

“Pembeli juga seharusnya Daftar 918Kiss meningkatkan serapan gas karena harga yang diberikan lebih rendah,” kata Dwi dalam keterangan tertulis, Jumat.

Hingga saat ini, ada 25 LoA Penjual dan Pembeli yang ditandatangani sebagai implementasi Kepmen ESDM No.89K/2020 dengan total volume sebesar 522,3 BBTUD atau 43,3 persen dari total volume gas tahun 2020.

Saat ini, Ditjen Migas Kementerian ESDM telah meminta PGN untuk menghitung kisaran harga LNG yang dibutuhkan agar harga gas di hilir maksimal US$6 per MMBtu. Adapun Djoko menjelaskan harga jual LNG di pasar spot internasional masih di bawah US$5 per MMBtu.

“Misalnya harga spot LNG kan biasanya yang tertinggi, begitu [PGN] katakan [harga] US$4-5 per MMBtu, hulunya keekonomiannya [kan] berkurang. Maka berapa bagian pemerintah dikurangi sehingga harga US$ 4-5 per MMBtu tadi. Bagian kontraktor tidak diganggu gugat,” katanya, Rabu (8/1/2020).

Atas usulan Kementerian ESDM, Djoko menyebut PGN mulai berhitung dan akan keluar hasilnya dalam beberapa waktu ke depan. Nantinya, harga LNG dihitung dari harga gas US$6 per MMBtu dikurangi biaya penyaluran gas.

Keduapuluh perjanjian tersebut terdiri dari 13 Letter of Agreement (LoA) antara penjual dan pembeli gas bumi. Serta 7 side letter PSC migas antara SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Menteri ESDM Arifin Tasrif menuturkan 7 KKKS yang telah mendatangani Side Letter of PSC pada hari ini, antara lain PetroChina International Jabung Ltd, PT Medco E&P Indonesia, PT Medco E&P Lematang, PC Ketapang II Ltd, PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java, Ophir Indonesia (Madura Offshore) Pty Ltd, dan Ophir Indonesia (Sampang) Pty Ltd.

Untuk side letter PSC, ada 16 dokumen yang telah ditandatangani hingga hari ini. Dwi menjelaskan, side letter PSC tersebut diharapkan menjadi kekuatan hukum yang sama dengan PSC atau Amandement PSC. Sehingga memberikan jaminan atas investasi yang telah dilakukan oleh KKKS.

Dalam kesepakatan tersebut diatur pula mekanisme penyesuaian perhitungan pengurangan bagian negara untuk menjaga penerimaan bagian KKKS.