Pendidikan di Pelosok Papua Mati Suri

Pendidikan di Pelosok Papua Mati Suri

Tanpa Listrik dan Internet, Pendidikan di Pelosok Papua Mati Suri

Pendidikan di Pelosok Papua Mati Suri – Sejumlah guru di daerah tertinggal, terluar dan terdepan (3T) menyayangkan sikap mendikbud Nadiem Makarim yang terkejut mengetahui bahwa masih banyak wilayah Indonesia yang belum dialiri listrik.

Dunia pendidikan di pedalaman Papua mati suri sejak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh akibat meluasnya pandemik COVID-19. Hampir 54 persen dari 608.000 murid di Bumi Cenderawasih ini hanya bisa gigit jari saat siswa di perkotaan melakukan kegiatan pembelajaran online (daring).

Sebab, sebagian wilayah pelosok itu tidak terjangkau oleh layanan internet karena bahkan listrik pun belum masuk. Kondisi ini membuat seorang guru honorer di pedalaman Papua tepatnya di Kabupaten Lanny Jaya menulis surat terbuka kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.

Listrik dari sinar matahari, jaringan towernya andalkan genset. Jika solarnya habis, sinyalnya hilang

Maruntung mengatakan dia sudah terbiasa hidup tanpa listrik dan jaringan internet. Di rumahnya, hanya mendapat penerangan dari sinar matahari semata. Saat gelap, hanya mengandalkan lampu senter atau lilin saja.

“Kami memang punya jaringan yang saat ini saya pergunakan bapak, tapi bapak tahu tidak, jaringan towernya hanya mengandalkan genset yang jika solarnya habis, maka sinyalnya pun turut hilang,” imbuhnya.

Sekitar 54 persen dari 608.000 murid di Papua tidak bisa menerapkan belajar daring

Maruntung mengungkapkan hampir 54 persen dari 608.000 murid di Papua tidak menerapkan belajar daring seperti layaknya di perkotaan.

“Ini memang tanggung jawab kita semua, terlebih kami guru yang ada di Papua. Namun kami di daerah terpencil betul-betul sangat terbebani dengan kondisi ini,” imbuhnya.

Sampai saat ini tidak ada listrik dan sinyal

Guru yang sudah mengabdi sejak 2013 itu heran saat mengetahui Nadiem syok mendengar ada sekolah yang sampai saat ini belum ada listrik dan sinyal. Dia lantas tergerak menceritakan kondisi tempat pengabdiannya di Papua.

“Yang saya tidak habis pikir lg, ko bisa bapak tidak tahu persoalan itu. Bukankah setelah menjadi menteri harusnya bapak bisa memetakan persoalan pendidikan dari Sabang sampe Merauke? Terutama kitong yang ada di Timur Indonesia ini,” ungkapnya dalam surat itu.

Guru honorer di Papua menaruh harapan besar pada Menteri Nadiem

Maruntung berharap banyak saat Nadiem dilantik menjadi Menteri Pendidikan di waktu saat itu. Dia menaruh harapan karena posisi itu diisi seorang dari generasi millennial yang diyakininya akan memiliki terobosan-terobosan.

Namun, kepercayaan Maruntung mulai menurun. Dia ragu dan mulai kehilangan harapan terlebih saat wabah virus COVID-19 melanda.

“Kami seperti diluluntakkan. Pendidikan terpencil di Papua seperti ‘mati suri ‘.Dan saya yakin daerah-daerah terpencil seperti kami juga pasti merasakan seperti yang kami rasakan,” tuturnya.

Siswa akan semakin tertinggal jika PJJ diperpanjang

Maruntung mempertanyakan bagaimana nasib siswa yang harus belajar dari layar televisi sedangkan listrik saja tidak punya. Bagaimana anak-anak bisa belajar daring sementara ponsel pun hanya sedikit dari mereka yang punya.

Dia khawatir jika kondisi belajar di rumah ini diperpanjang hingga Desember, murid-murid itu akan kami akan tertinggal semakin jauh pelajarannya.

“Ah, sudahlah Pak menteri. Rasanya kami di daerah terpencil akan tetap dibelakang saja. Kami sudah pasrah kok dgn keadaan ini. Kami sudah terlalu biasa dgn kondisi miris ini.
Doa saya sederhana ja, semoga pandemi ini segera berakhir agar saya bisa berjumpa dgn murid-muridku,” tutupnya.