Izin Hypermarket, IKEA Alam Sutera tetap Pilih Tutup Sementara

Izin Hypermarket, IKEA Alam Sutera tetap Pilih Tutup Sementara

IKEA Alam Sutera tetap Pilih Tutup Sementara

IKEA Alam Sutera tetap Pilih Tutup SementaraPelaksanaan Pembatasan Berskala Besar (PSBB) di Tanggerang diperpanjang, toko IKEA di Alam Sutera ikut memperpanjang penutupannya sementara.

Baca juga : Tanpa Cuti Bersama Libur Lebaran 2020 Cuma Dua Hari

“Kami tetap mematuhi peraturan PSBB dan tentunya operasional toko menyesuaikan dengan peraturan yg diterapkan, jadi IKEA Alam Sutera masih tutup,” tutur Ririn Basuki, Public Relations Manager IKEA Indonesia, Selasa (19/5/2020).

PSBB di Tangerang sendiri mengalami masa perpanjangan tahap kedua, hingga 31 Mei mendatang. Hal tersebut menyesuaikan pelaksanaan PSBB di DKI Jakarta.

Meski memegang izin hypermarket yang memang diperbolehkan untuk tetap beroperasi aplikasi idn poker terbaru selama PSBB, Ririn mengaku, IKEA tetap mengikuti aturan pemerintahan setempat. Sehingga, keselamatan pengjnjung dan para pegawainya bisa tetap terjaga.

“Kami tetap membuka belanja dengan cara online di website resmi IKEA, tinggal pesan, nanti barang diantar ke tujuan,” ungkap Ririn.

Penurunan Pengunjung

Selama pandemi Covid-19, IKEA Indonesia mengakui adanya penurunan pengunjung ke tokonya. Selain memang ada mawas diri untuk keluar rumah, para pengunjungnya lebih memilih untuk berbelanja online.

“Selama PSBB ini penurunanya cukup signifikan, sampai 60 persen. Mereka lebih memilih belanja dari rumah,” kata Ririn.

Awalnya, jumlah pengunjung berkurang dan hanya menyisahkan seribu sampai dua ribu pengunjung. Namun semakin hari, menenurunan jumlah pengunjung tersebut bisa dibawah angka itu.

“Ini terjadi bukan di Alam Sutera saja, tapi di IKEA cabang lain,” kata Ririn.

Restrukturisasi Kredit Tidak Cukup Bantu UMKM Bertahan

Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang terpuruk, akibat pandemi Covid-19. Wabah ini hampir melumpuhkan roda perekonomian dalam negeri.

Kendati begitu, pemerintah mengeluarkan relaksasi kredit yang diharapkan bisa membantu keberlanjutan usaha pelaku UMKM sehingga mampu bertahan menghadapi kondisi tidakpastian ini.

Namun tetap saja meskipun para pelaku UMKM diberikan bantuan, masih ada ada peluang dan tantangan yang besar yang akan dihadapi oleh UMKM, di tengah wabah yang tidakpasti kapan berakhirnya.

Menanggapi hal itu, Chairman Infobank Institute, Eko B. Supriyanto mengatakan bahwa ke depannya UMKM membutuhkan modal kerja untuk keberlangsungan usahanya.

“Jika pada krisis sebelumnya tahun 1998 dan 2008, UMKM masih punya daya tahan yang kuat, karena pada waktu yang terkena adalah sektor korporasi besar. Tapi, sekarang sektor UMKM yang paling terkena,”kata Eko dalam acara Diskusi Media InfobankTalkNews , Selasa (19/5/2020).

Selain itu, Eko melihat dari sisi keuangan UMKM saat ini terkena problem cash atau kehabisan uang tunai untuk menutup kebutuhan pribadi, juga, soal kredit macet. Sementara pemerintah sudah memberi relaksasi untuk penyelesaain kredit macetnya.

Lanjutnya, apabila dilihat dari catatan, total kredit perbankan terdampak Covid-19 yang telah berhasil direstrukturisasi hingga minggu (10/5/2020) mencapai Rp336,97 triliun. Jumlah kredit itu berasal dari 3,88 juta debitur. Sebagian besar merupakan kredit UMKM, yakni sebesar Rp167,1 triliun dari 3,42 juta debitur.

Masih Bisa Bertahan

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Kepala Ekonom BNI, Ryan Kiryanto, menyebut sebetulnya peluang UMKM di tahun ini masih bisa untuk bertahan, hal itu sejalan dengan keluarnya kebijakan pemerintah, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memberikan banyak keringanan, dan kelonggaran kepada pelaku UMKM, terutama yang terdampak Covid-19.

“Bantuan likuiditas, keringanan pajak, penundaan pembayaran kewajiban kepada bank sesuai dengan POJK 11/2020 pasti bisa meringankan beban keuangan mereka,” kata Ryan.

Namun, kendati ada bantuan dari pemerintah terkait relaksasi. Sangat penting juga bagaimana menangani UMKM ke depan setelah kondisi ekonomi menuju ke The New Normal. Mereka nantinya UMKM tidak gagap atau shock ketika terjadi banyak perubahan pasca covid-19.

“Pelatihan teknik produksi, marketing dan akuntasi dengan menggunakan perangkat digital. Sudah dikenalkan kepada mereka (UMKM), karena perilaku konsumen berubah dengan adanya situasi normal yang baru (new normal),” pungkas Ryan.

Sumber : liputan6.com