Harga Gula Naik Rp 20.000 per Kg

Harga Gula Naik Rp 20.000 per Kg.

Tembus Rp20 Ribu per Kg

Harga – Kadin DKI Jakarta, Sarman Simanjorang menyebut ketersediann gulu pasir di pasaran perlu diwaspadai, terutama saat Ramadan. Sebab, kenaikan harga gula yang mencapai kisaran Rp19.000-20.000 per kilogram (kg) tidak merata, bahkan ada minimarket yang stok gulanya kosong.

“Perlu yang diwaspadai adalah gula, gula ini boleh dikatakan naiknya tidak sama dengan yang lain sudah dikisaran Rp 19.000-20.000/kg. Dibeberapa minimarket malah kosong, jadi perlu diwaspadai,” kata Sarman kepada Liputan6.com, Jumat (24/4).

Baca juga : Penerbangan Domestik Terakhir Sebelum Ditutup

Dia menilai, seharusnya ketersediaan itu harus disediakan jauh-jauh hari, tidak bisa sudah mendekati Ramadan baru menunggu impor. Terlebih lagi situasi wabah covid-19 ini sarana transportasi, dari negara impor terbatas atau sulit karena beberapa negara ada yang menerapkan lockdown.

“Seharusnya mulai Januari-Februari harus dipersiapkan, apalagi kalau sudah masalah covid-19 ini baru muncul harusnya buru-buru melakukan impor. Kalau sekarang kan nilai kurs kita sudah tinggi, negara tujuan impor juga sduah melakukan pengetatan. Ya ini jadi serba salah, kita lihat bagaimana pemerintah punya jalur sendiri untuk menyelesaikan itu,” ujarnya.

Selain itu, Sarman memperkirakan kenaikan harga gula akan terasa ketika sudah memasuki pekan kedua puasa, karena konsumsi sudah mulai naik, apalagi gula pasir.

Data

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN), harga gula di beberapa daerah seperti Aceh Rp19.150 per kg, Bali Rp 19.000 per kg, Nusa Tenggara Timur Rp 19.750 per kg, Sulawesi Utara Rp 19.650 per kg, Maluku Rp 19.900 per kg, Papua Rp 19.100 per kg.

Bahkan di daerah lainnya harga gula mencapai Rp 20.000 lebih per kg nya, seperti di Kalimantan Tengah Rp 20.400 per kg, Sulawesi Tenggara Rp 20.250 per kg, Maluku Utara Rp 20.500 per kg. Maka dari itu, Sarman menegaskan kepada pemerintah untuk tetap mewaspadai komoditas gula pasir ini.

“Artinya angka ketersedian ada di pemerintah, akan tetapi kita harus menyampaikan sinyal kepada pemerintah supaya yang namanya gula terkendali,” tutupnya.

Sumber : merdeka.com