Film tentang Pendidikan ini Wajib Ditonton

Film tentang Pendidikan ini Wajib Ditonton

Mendidik, Film tentang Pendidikan ini Wajib Ditonton Semua Kalangan

Film tentang Pendidikan ini Wajib Ditonton – Film yang bagus, bukan hanya film yang dibintangi oleh para aktor/aktris dengan akting mumpuni atau sinematografi yang memanjakan mata. Film yang bagus juga berarti plot cerita yang ciamik serta pesan moral yang tersampaikan dengan baik. Salah satunya, yang membuat penonton merasa mendapat “sesuatu” yang berbeda.

Pendidikan adalah salah satu selipan yang sangat bisa disematkan dalam sebuah film untuk menyampaikan pesan. Beberapa film yang berpesan soal pendidikan, menjadi film-film abadi yang akan selalu dikenang karena penyampaian pesan pendidikannya yang keren sekali.

Belajar bisa dilakukan melalui media apa saja. Tidak pula harus di sekolah dan bertatap muka dengan guru. Kita bisa belajar di mana pun, dari siapa pun, dan kapan pun.

Film menjadi media paling kreatif dalam menyampaikan pesan, tidak terkecuali soal pendidikan. Tidak terkesan menggurui, pelajaran yang disampaikan lewat film justru lebih mengena. Selain itu, belajar lewat film dijamik tidak akan membosankan.

Nah, berikut kami sajikan film tentang pendidikan yang wajib ditonton semua kalangan. Pesan-pesannya sangat edukatif dan inspiratif. Yuk, kita tonton bersama-sama!

Tanah Surga, Katanya

Berlatar di daerah perbatasan Indonesia (Kalimantan Barat)-Malaysia (Sarawak), Tanah Surga, Katanya menampilkan permasalahan krisis pendidikan dan nasionalisme. Film yang rilis pada 2012 silam ini memotret tiga generasi di perbatasan. Hasyim, si kakek yang terjebak dalam kenangan konfrontasi perbatasan; Haris, anak Hasyim yang lebih suka hidup di negara tetangga karena lebih makmur; dan Salman, cucu Hasyim yang sangat nasionalis.

Dari sini kita bisa memetik pelajaran tentang pentingnya pemerataan pendidikan. Masih ada anak-anak di daerah perbatasan yang belum mendapat pendidikan layak. Fasilitas
yang kurang memadai makin memperburuk keadaan. Lebih penting lagi masalah pendidikan rasa cinta tanah air. Ironis sekali melihat warga negara kehilangan jati dirinya.

Di Timur Matahari

Di Timur Matahari menceritakan sulitnya pendidikan di Papua. Rilis pada 2012, film ini membawa kita melihat sosok Mazmur, Thomas, dan kawan-kawan menunggu guru pengganti di lapangan terbang tua. Masalah lebih besar kemudian muncul: pertikaian dua kampung. Orang-orang dewasa bisa saja bertikai, namun Mazmur, Thomas, dan lainnya tetap berkawan dan berusaha mendamaikan.

Nilai pendidikan di sini yang pertama, pemerataan pendidikan. Masih terjadi kesenjangan antara pendidikan di Papua dan pulau lain. Kedua, kesabaran dalam menuntut ilmu. Anak-anak di film ini dengan sabar menunggu guru pengganti yang akan memberikan cahaya dalam hidup mereka. Ketiga, belajar dari alam. Ya, karena tak kunjung ada guru pengganti, mereka sempat belajar dari alam dan lingkungan. Mengamati kehidupan dan merenungkannya.

Alangkah Lucunya (Negeri Ini)

Selanjutnya, ada film Alangkah Lucunya Negeri Ini karya Dedy Mizwar. Film ini berfokus pada Muluk, sarjana muda yang susah mencari pekerjaan. Karena terpaksa, akhirnya dia bekerja sama dengan para pencopet kecil pimpinan Bang Jarot dan akan diberi 10% penghasilan. Di lain sisi, Muluk bermaksud membuat sadar para preman dengan mendatangkan kawan-kawannya untuk mengajar mereka.

Kita dapat menangkap pelajaran dari berbagai sisi film ini. Pertama, pantang menyerahnya Muluk dalam mencari kerja. Ini menunjukkan bahwa untuk sukses kita bukan hanya perlu gelar, melainkan kegigihan berusaha. Kedua, pendidikan itu untuk siapa saja. Tidak pandang preman, konglomerat, atau apa pun profesinya, seseorang tetap berhak mendapat pendidikan.

Negeri 5 Menara

Terakhir, kita punya film Negeri 5 Menara yang diangkat dari novel karya Ahmad Fuadi. Kisah bermula dengan Alif yang setengah hati memutuskan melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren di Ponorogo. Di sana dia bertemu dengan Baso, Atang, Said, Dulmajid, dan Raja, yang kemudian membentuk Sahibul Menara (para pemilik menara). Alif yang semula belum legawa, menjadi bersemangat setelah bertemu Ustaz Salman yang penuh motivasi dan gairah.

Nilai pendidikan yang kentara di film ini tentu saja kesungguhan. Slogan Man jadda Wajada (Barang siapa bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil) menjadi ruh di setiap adegannya. Selain itu, di sini juga digambarkan pendidikan pesantren yang disiplin, agamis, dan beda dari sekolah formal.

Nah, itu dia film yang sarat akan nilai pendidikan. Rekomendasi banget buat semua kalangan. Sudah pernah nonton belum?