Dulu Sering Diledek, Lihat Omset Pengusaha Jengkol Ini Sekarang

Dulu Sering Diledek, Lihat Omset Pengusaha Jengkol Ini Sekarang

Dulu Sering Diledek, Lihat Omset Pengusaha Jengkol Ini Sekarang

0.74485800 1563238852 bliblicom 103214 big.jpg - Dulu Sering Diledek, Lihat Omset Pengusaha Jengkol Ini Sekarang

Dulu Sering Diledek, Lihat Omset Pengusaha Jengkol Ini Sekarang – Imas tidak pernah menyangka dirinya akan menjadi pengusaha sukses dengan omzet mencapai Rp40 juta perbulannya. Imas hanyalah anak seorang petani asal sumedang, Jawa barat.

Penghasilan ayahnya jauh dari cukup untuk  memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. “Saya ini anak petani. Almarhum ayah menanam beberapa pohon jengkol di kebun belakang rumah. Awalnya ayah hanya menjual jengkol mentah tapi karena pendapatan sangat kecil maka ibu berinisiatif untuk mengolah jengkol tersebut menjadi sebuah keripik,”

Gadis asal Sumedang, Jawa Barat, ini merasa terpanggil untuk ikut Daftar Sbobet88 memasarkan produk keripik jengkol buatan si ibu. Apalagi, pada tahun 2014 sang ayah meninggal dunia sehingga ibu harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Imas yang saat itu masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) membawa keripik jengkol tersebut ke sekolah untuk dijajakan kepada teman-temannya. Dengan ikut memasarkan produk, Imas berharap bisa turut membantu meringankan beban orang tuanya. Ia berusaha untuk menjadi anak mandiri dengan mencari penghasilan sendiri dan tidak meminta ongkos serta uang jajan sekolah kepada orang tua.

Tapi sayang, anak bungsu dari empat bersaudara ini justru mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari teman-teman sekolahnya. Banyak orang yang menghina dan meledek Imas karena menganggap keripik jengkol merupakan produk murahan.

“Saya sering dihina. Dibilang kalau jengkol itu bau,” ujarnya.

Imas tidak langsung putus asa ketika mendapat perlakuan tak baik tersebut. Ia justru merasa tertantang untuk bisa mengubah mindset masyarakat agar menganggap jengkol sebagai produk berkelas dan elegan. Ia juga menginginkan agar produk olahan jengkol bisa naik kelas dan diterima oleh semua kalangan.

“Ibu saya bisa menyekolahkan kakak-kakak saya hingga lulus SMA dari hasil penjualan keripik jengkol ini. Di situlah saya berpikir, kalau ibu bisa maka saya tentu juga bisa mengembangkan usaha keripik jengkol ini lebih besar lagi,” katanya.

Kesempatan untuk mengembangkan usaha keripik jengkol sang ibu datang ketika Imas ditawari untuk ikut program The Big Start Season 2 yang diselenggarakan oleh Blibli.com. Imas yang saat itu masih berstatus sebagai pelajar SMA tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Bekerja Keras 

Pada tahun 2017 Imas mengikut program The Big Start Season 2. Ia mengatakan dirinya sempat tak percaya diri ketika melihat produk para peserta lain yang dinilainya sangat bagus. Adapun, produk keripik jengkol buatan Imas hanya dikemas tradisional dengan menggunakan plastik dan stiker murahan.

“Awalnya saya malu-malu saat ikut program The Big Start Season 2, tapi saya memberanikan diri. Saya bertekad untuk mengubah mindset masyarakat agar produk keripik jengkol tidak lagi dianggap sepele, tak dianggap makanan murahan, dan tidak dianggap kampungan,” tekadnya.

“Alhamdulillah saya bisa ikut program TBS karena di sana kami diajarkan cara mengelola bisnis, pemasaran, mengelola keuangan, dan lain-lain. Pengalaman ikut program ini sangat berharga dan sepertinya tidak akan pernah bisa didapatkan di tempat lain,” sebutnya.

“Pak Daniel menyarankan saya untuk memperbaiki packaging karena waktu itu masih pakai plastik. Perbaikan desain kemasan dibantu langsung oleh Pak Daniel Mananta,” tuturnya.

Membuahkan Hasil

Tekad dan kerja keras Imas ternyata membuahkan hasil. Ia keluar sebagai juara III program The Big Start Season 2 dan berhak mendapatkan hadiah modal usaha senilai Rp200 juta. Ia mengatakan hadiah tersebut dipergunakan untuk mengembangkan bisnis keripik jengkol miliknya.

“Uang hadiah The Big Start dipergunakan untuk modal usaha. Salah satunya dengan membangun rumah produksi. Saya juga merekrut karyawan tetap sebanyak dua orang. Tapi kalau sedang kebanjiran order saya juga menambah karyawan sementara sesuai dengan kebutuhan produksi,” jelasnya.

Sebelum mengikuti program The Big Start, Imas hanya bisa menjual maksimal 50 pcs keripik jengkol selama sebulan. Kini ia bisa menjual produk keripik jengkol hingga mencapai 3.000 pcs sebulan dengan omzet mencapai Rp30 juta.

“Dulu penjualan Oyoh Jengkol maksimal 50 bungkus sebulan. Sekarang minimal 1.000 bungkus. Kalau lagi ramai bisa mencapai 3.000 bungkus sebulan,” pungkasnya.