Bisnis Air Purifier Bakal Naik Daun

Bisnis Air Purifier Bakal Naik Daun

Memperkirakan bisnis air quality product seperti air purifier akan semakin berkembang pada masa depan. Perkembangan bisnis itu tidak terlepas dari kualitas udara yang kian hari makin buruk, terlebih di Indonesia. Maka Beberapa minggu lalu kita ngobrol sama Prof. Dr. R. Budi Haryanto, dari FKM UI.

Bisnis Air Purifier Bakal Naik Daun - Bisnis Air Purifier Bakal Naik Daun

Menurut  http://agcsa.org/, polusi udara bisnis Air Purifier Bakal Naik Daun pada Jabodetabek dalam 9 tahun ke depan sampai akan jadi jauh lebih buruk dari sekarang kalau tidak ada perubahan.

Industri air quality product ke China meningkat pesat

Melansir dari http://142.11.212.11/ Piotr kemudian mencontohkan apa yang terjadi ke China ketika polusi udara meningkat. Hal itu membuat industri air quality product berkembang pesat hingga 7 kali lipat dalam 4 tahun. Bukan karena orang ingin, tapi karena orang butuh, karena ada polusi. Kita mau memastikan lingkungan yang kita ada, dan udara yang kita ada bersih. Kalau kita tidak bisa menjamin udara bersih ke luar, kita harus bersihin kualitas udaranya di dalam ruangan kita.

Masalah polusi udara bisa terjadi kemana saja

Piotr menjelaskan, masalah polusi udara bisa terjadi kemana saja. Bukan cuma lingkungan yang dekat pabrik atau tempat dengan banyak kendaraan bermotor. mencontohkan polusi udara pada rumahnya, kawasan Jakarta Selatan yang ia nilai cukup baik karena banyak pepohonan dan tidak banyak kendaraan bermotor. Namun ketika ia mengecek, kualitas udara ke lingkungan rumahnya jauh lebih buruk membandingkan Jalan Sudirman yang notabene banyak kendaraan bermotor.

Polusi udara tanggung jawab bersama

Pada kesempatan yang sama, Aktivis Bicara Udara, Ratna Kartadjoemena mengatakan bahwa masalah polusi udara menjadi masalah bersama. Bukan hanya sekelompok orang, tapi juga melibatkan berbagai negara. Contoh kebakaran hutan itu memengaruhi CO2 di dunia. Kita melakukan karbon komitmen dan lain-lain itu gak cuma buat kita-kita aja tapi mempengaruhi ke seluruh dunia,” katanya. Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani melaporkan Indonesia membutuhkan Rp3.779 triliun untuk menghadapi perubahan iklim dan menurunkan karbondioksida.