Bio Farma Bakal Produksi Oseltamivir

Bio Farma Bakal Produksi Oseltamivir

Bio Farma Bakal Produksi Oseltamivir

Bio Farma Bakal Produksi Oseltamivir, – PT Bio Farma (Persero) bakal memproduksi obat Covid-19 dengan jenis Oseltamivir yang bahan bakunya didatangkan dari India beberapa waktu lalu. Jumlah obat yang akan diproduksi sebanyak 500 ribu tablet.

Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga mengatakan bersama dengan bahan baku Oseltamivir tersebut. Bio Farma juga mendatangkan sebanyak satu ton Chloroquine dari negara tersebut.

“Kemarin beli bahan obat Oseltamivir sudah ambil bahan bakunya dari India, itu obat corona juga 500 ribu tablet beli dari India, yang bikin Bio Farma. Tanggal 9 April kemarin kita ambil,” kata Arya dalam video conference, Rabu.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam perdagangan sore ini ditutup menguat 35 poin di level 14.700 dari penutupan sebelumnya di level 14.735. Dalam perdagangan besok, rupiah diprediksi akan dibuka menguat.

“Sekitar 10-40 poin di level 14.670-14.730,” ujar Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis http://utowndc.com/, Senin.

Dia menjelaskan, nantinya obat yang diproduksi oleh perusahaan pelat merah ini akan didistribusikan ke rumah sakit-rumah sakit rujukan Covid-19 milik BUMN. Obat ini tidak dijual bebas sebab memerlukan resep dokter untuk mengkonsumsinya ditambah jumlahnya terbatas.

Pasar optimistis terhadap rencana produksi Oseltamivir untuk bantu pasien COVID-19

Pemerintah melalui PT Bio Farma di bulan September ini akan memproduksi sebanyak 4,2 juta tablet Oseltamivir. Obat ini digunakan untuk terapi penyembuhan pasien COVID-19 di dalam negeri dan didistribusikan ke rumah sakit-rumah sakit rujukan COVID-19. Namun, obat itu tidak dijual bebas lantaran jumlah terbatas dan memerlukan resep dokter untuk mengonsumsinya.

“Pasar optimis tablet Oseltamivir bisa menekan dan membantu menyembuhkan pasien COVID-19. Wajar kalau arus modal asing kembali masuk ke dalam pasar dalam negeri karena Indonesia secara fundamental masih cukup kuat ekonominya. Ini bisa dilihat dari transaksi valas, obligasi dan SUN di perdagangan DNDF,” ungkapnya.

The Fed tidak menaikkan suku bunga hingga 2023

Selain itu, penguatan rupiah juga dipengaruhi Bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) saat mengumumkan kebijakan moneter. The Fed menyatakan tidak akan menaikkan suku bunga hingga tahun 2023. Sementara program pembelian aset (quantitative easing/QE) masih akan dilakukan dengan nilai yang sama seperti saat ini. Artinya, tidak ada stimulus tambahan dari bank sentral paling powerful di dunia tersebut.

“Pasar mengalihkan fokus mereka ke Ketua Fed Jerome Powell, yang dijadwalkan tampil di depan Kongres AS akhir pekan ini, untuk panduan lebih lanjut tentang pendekatan Fed terhadap inflasi. Anggota komite Fed lainnya, termasuk Charles Evans, Raphael Bostic, Lael Brainard, James Bullard, Mary Daly dan John Williams, juga dijadwalkan untuk menyampaikan pidato,” kata Ibrahim.

Sementara itu dari pemerintah, Presiden AS Donald Trump, mengindikasikan stimulus yang lebih besar dari 2 triliun dolar AS. Meski demikian, Partai Republik dan Partai Demokrat masih belum sepakat akan besarnya stimulus tambahan yang akan digelontorkan.